Catatan dari Sudut Ruang Seni Rupa SMP Negeri 2 Paranggupito

Diposting pada: 2013-11-17, oleh : Agus Dwianto, Kategori: Kegiatan Siswa

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni, belajar melalui seni dan belajar tentang seni. Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.
Pemaparan Permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi mata pelajaran seni budaya di atas menjelaskan pentingnya pelajaran seni budaya diberikan pada peserta didik. Mata pelajaran seni budaya mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan kecerdasan otak kanan. Ippho Santosa dalam bukunya “13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan” menyatakan, bahwa fakta membuktikan, kesuksesan 80% ditentukan oleh otak kanan. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberikan asupan gizi yang seimbang antara otak kanan dengan otak kiri. Otak kiri dapat diasumsikan sebagai otak yang ‘lebih memihak’ kecerdasan di bidang akademis, IQ, kognitif, dan logika, sedangkan otak kanan memiliki ‘kavling’ di bidang kreatifitas, EQ, afektif dan intuitif.
Visi SMP Negeri 2 Paranggupito adalah “Unggul dalam Prestasi, Tangguh dalam Budaya dan Akhlak Terpuji”. Langkah nyata pelaksanaan visi tersebut di bidang budaya salah satunya adalah dengan kegiatan ekstrakurikuler seni rupa. Ekstrakurikuler seni rupa dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa-siswi SMP Negeri 2 Paranggupito untuk berkspresi melalui karya-karya lukis wayang beber dan karya-karya seni rupa dengan tema tertentu lainnya. Wayang beber sebagai cikal bakal wayang kulit tersebut sengaja dikembangkan kembali mengingat karya seni budaya adiluhung tersebut saat ini semakin dilupakan, khususnya oleh generasi muda. 
Salah satu Standar Kompetensi mata pelajaran seni rupa adalah pelaksanaan pameran kelas. Berdasarkan Standar Kompetensi tersebut setiap kelas SMP Negeri 2 Paranggupito diselenggarakan pameran kelas pada akhir tahun pelajaran. Karya-karya dari kelas ekstrakurikuler pada pelaksanaan pameran tahun ini adalah yang paling banyak mendapatkan apresiasi positif dari para guru dan siswa. Hal itu dapat dimaklumi karena karya-karya dari siswa-siswi ekstrakurikuler memang paling “mencolok”.

 

Persiapan pameran ekstrakurikuler seni rupa

Kegiatan di bidang seni rupa yang lain adalah dengan diikutinya “Lomba Melukis Tong Sampah dalam Rangka Memperingati Hari Lingkungan Hidup” pada hari Senin, tanggal 16 Mei 2011 di Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Wonogiri. Wibagso Erbe Nugraha mewakili SMP Negeri 2 Paranggupito pada lomba tersebut. Lima hari sebenarnya adalah waktu yang cukup singkat untuk mempersiapkan lomba tersebut, karena media untuk melukis pada lomba tersebut adalah cat minyak dan tong sampah. Wibagso sempat sedikit ‘down’ ketika pertama kali mendapat informasi tersebut, namun berkat motivasi yang diberikan oleh guru seni rupanya, dia pun menjadi percaya diri untuk mencobanya. Di bawah ini merupakan sedikit ‘oleh-oleh’ goresan pengalaman dari lomba tersebut.
Langkah awal yang dilakukan untuk persiapan lomba tersebut adalah pembuatan konsep lukisan. Perancangan konsep karya yang matang sangat dibutuhkan dalam sebuah penciptaan suatu karya seni yang baik. Konsep yang baik untuk suatu perlombaan pada umumnya harus memenuhi kriteria sesuai dengan tema yang ditentukan dan memiliki pesan yang disampaikan kepada penikmat seni tersebut. Diskusi dan konsultasi Wibagso dengan guru pembimbingnya tersebut melahirkan beberapa sketsa kasar, yang semuanya memiliki pesan kepada masyarakat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Konsep dengan bentuk visual tokoh wayang berkarakter baik versus buruk akhirnya terpilih untuk diwujudkan pada karya lomba. Latihan penuangan konsep awalnya dilakukan melalui media crayon di atas kertas. Setelah ditemukan bentuk, komposisi, proporsi, keseimbangan, dan perpaduan warna yang tepat, dilanjutkan dengan berlatih melukis di atas tong sampah.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Senin itu 40-an peserta SD dan 40-an peserta SMP berbaur menjadi satu untuk mengadu kreatifitas di Taman Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Wonogiri. Wibagso tampak agak kesulitan menaklukkan tong sampah di depannya. Media yang cukup besar tersebut harus selesai disulap menjadi karya seni yang indah dalam jangka waktu tiga jam. Tepat jam 11.30 WIB kentongan tanda usainya batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Wibagso tampak kurang puas dengan hasil karyanya yang sebenarnya dapat lebih maksimal seandainya dia tadi pandai memanfaatkan waktu. Ketika guru seni rupanya yang juga selaku official mengumpulkan karya tersebut kepada panitia, ada beberapa orang tua dan guru peserta lain yang menertawakan karya Wibagso tersebut, salah seorang dari mereka menyeletuk, “Lihat tuh…masa’ temanya lingkungan hidup, kok gambarnya wayang…ndak nyambung, hahaha…”, kemudian disambut tawa (yang menurut penulis sangat mengejek) oleh orang-orang di sekitarnya. 

Suasana lomba peringatan Hari Lingkungan Hidup

Sekitar pukul 13.00 pengumuman dibacakan, optimisme Wibagso dan guru pembimbingnya berbuah secercah kebahagiaan. “Wibagso Erbe Nugraha dari SMP Negeri 2 Paranggupito mendapatkan juara III untuk kategori SMP…!” demikian panitia mengumumkan hasil penilaian dewan juri. Secara teknis, memang karya Wibagso jauh di bawah yang lainnya, ada beberapa karya yang secara teknis sangat bagus, namun secara konsep atau ide kreatifitas tidak bagus. Dewan juri tampaknya paham betul dengan penilaian karya seni secara profesional, bahwa karya seni yang baik adalah karya seni yang mempunyai kreatifitas dan pesan yang baik, tidak hanya “enak dilihat, namun harus kaya isi”. Karya dari Juara I memiliki pesan, jika membuang sampah pada tempatnya, maka alam menjadi bersih dan indah. Karya dari Juara II memiliki pesan, pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat.

Wibagso dan karya lukis tong sampahnya

Beberapa orang tua dan guru untuk beberapa kalinya masih ada yang mengejek karya juara III tersebut, kata mereka karya tersebut masih kalah bagus jika dibandingkan dengan karya-karya yang tidak masuk sepuluh besar. Tentu saja berdasarkan kaca mata mereka, bukan berdasarkan kaca mata dewan juri. Visualisasi karya Wibagso Erbe Nugraha dari SMP Negeri 2 Paranggupito tersebut pada bagian kiri adalah wujud raksasa Dasamuka yang memegang kapak, pada bagian background terlihat pohon-pohon bekas ditebangi dan hutan yang terbakar. Hal itu berlawanan dengan visualisasi pada samping kanan, yaitu Arjuna sedang memegang benih dengan background hutan yang subur. Tanpa penjelasan yang panjang lebar pun penikmat seni dan pembaca kemungkinan besar sudah mampu menangkap pesan tersebut. 
Demikianlah salah satu upaya pendidikan yang baik, pendidikan yang menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Demikianlah karya seni yang seharusnya diapresiasi dengan baik, yaitu karya seni yang memiliki pesan dan mampu berdialog dengan penikmatnya.

(Fajar Prihattanto)


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Forum Multimedia Edukasi  www.formulasi.or.id